journalku
https://drive.google.com/open?id=1rL1HQWMoBPy4bnrI9UjkbBmLCoC7eH1QXJQAivGHtos
Matahariku
Rabu, 07 September 2016
Sabtu, 17 Oktober 2015
Makalah Filsafat Konstruktivisme
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Filsafat adalah ilmu yang
berupaya untuk memahami hakikat alam dan realitas dengan mengandalkan akal
budi. Plato memiliki berbagai gagasan tentang filsafat. Plato pernah mengatakan
bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli
dan murni. Selain itu, Plato juga mengatakan bahwa filsafat adalah penyelidikan
tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang
ada.
Aristoteles (murid Plato) juga
memiliki beberapa gagasan mengenai filsafat. Aristoteles mengatakan bahwa
filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari
prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada. Aristoteles pun
mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari
“peri ada selaku peri ada” (being as being) atau “peri ada sebagaimana
adanya” (being as such).
Rene Descartes, filsuf Prancis
yang termasyhur dengan argumen, “je pense, donc je suis”, atau
dalam bahasa Latin, “cogito ergo sum” (“aku berpikir maka aku
ada”), mengatakan filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal
penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia.
Bagi William James, filsuf
Amerika yang terkenal sebagai contoh pragmatisme dan pluralisme, filsafat
adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir jelas dan terang. R. F.
Beerlingm yang pernah menjadi Pendidik besar filsafat di Universitas Indonesia,
dalam bukunya Filsafat Dewasa Ini mengatakan bahwa filsafat, “memajukan
pertanyaan tentang kenyataan seluruhnya atau tentang hakikat, asas, prinsip
dari kenyataan”. Beerlingm juga mengatakan bahwa filsafat adalah suatu
usaha untuk mencapai radix atau akar kenyataan dunia wujud,
juga akar pengetahuan tentang diri sendiri (Rapar, 1996: 15).
Konsep atau gagasan dan
definisi yang begitu banyak tidak perlu membingungkan, bahkan sebaliknya justru
menunjukkan betapa luasnya samudera filsafat itu sehingga tidak terbatasi oleh
sejumlah batasan yang akan mempersempit ruang gerak filsafat. Perbedaan-perbedaan
itu sendiri merupakan suatu keharusan bagi filsafat sebab kesamaan dan kesatuan
pemikiran serta pandangan justru akan mematikan dan menguburkan filsafat untuk
selama-lamanya.
Cukup lama diterima bahwa
pengetahuan harus merupakan representasi (gambaran atau ungkapan) kenyataan
dunia yang terlepas dari pengamatan (objektivisme). Pengetahuan dianggap
sebagai kumpulan fakta. Namun akhir-akhir ini terlebih dalam bidang sains,
diterima bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar
mengerti. Pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan
(kontruksi) yang terus menerus, terus berkembang dan berubah.
Konstruktivisme adalah salah
satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah
konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan
Matthews, 1994). Von Glaserdfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu
tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia
kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi
kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Seseorang membentuk skema,
kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan
(Bettencourt, 1989). Maka pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari
pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman
atau dunia sejauh dialaminya. Piaget (Suparno, 1997) menyatakan proses
pembentukan ini berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan
reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.
Dalam proses pendidikan,
aliran konstruktivisme menghendaki agar peserta didik dapat menggunakan
kemampuannya secara konstruktif untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan
perkembangan ilmu dan teknologi. Peserta didik harus aktif mengembangkan pengetahuan,
sehingga peserta didik memiliki kreativitas untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan, aliran ini mengutamakan peran peserta didik dalam berinisiatif.
Pendidikan memiliki peran yang
sangat penting dalam keseluruhan hidup manusia. Pendidikan merupakan interaksi
antara pendidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam
interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta proses bagaimana
interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapakah
pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi
pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban
yang mendasar, yang esensial, yakni jawaban-jawaban filosofis.
Penerapan dalam proses
pendidikan aliran konstruktivisme memberikan keleluasaan pada peserta didik
untuk aktif membangun kebermaknaan sesuai dengan pemahaman yang telah mereka
miliki, memerlukan serangkaian kesadaran akan makna bahwa pengetahuan tidak
bersifat obyektif atau stabil, tetapi bersifat temporer atau selalu berkembang
tergantung pada persepsi subyektif individu dan individu yang berpengetahuan
menginterpretasikan serta mengonstruksi suatu realisasi berdasarkan pengalaman
dan interaksinya dengan lingkungan. Pengetahuan berguna jika mampu memecahkan
persoalan yang ada.
B. Rumusan
Masalah
- Apa itu filsafat dan filsafat konstruktivisme?
- Apa itu filsafat konstruktivisme?
- Bagaimana pandangan filsafat konstruktivisme terhadap pendidikan ?
- Bagaimana filsafat konstruktivisme dalam praksis pendidikan?
C. Tujuan
- Mengetahui apa itu filsafat.
- Mengetahui apa itu filsafat konstuktivisme.
- Mengetahui pandangan filsafat konstruktivisme terhadap pendidikan.
- Mengetahui aliran filsafat konstruktivisme dalam praksis pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat
Menurut Plato (427-437 SM),
filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Sementara, menurut
Aristoteles, filsafat adalah segala usaha dalam mencari kebenaran. Sedangkan,
Marcus Tullius Cicero (106-43SM), politikus dan ahli pidato yang amat kondang
pada zaman Romawi, mengatakan bahwa filsafat adalah sesuatu yang mahaagung dan
perbagai upaya dalam mencapai hal tersebut. Pada masa-masa selanjutnya, gaya
para filsuf dalam mendefinisikan filsafat tampak makin bervariasi, sekalipun
tetap “membingungkan” kita. Al-Farabi (wafat 950 M), seorang filsuf muslim
terbesar sebelum Ibnu Sina, contohnya, menegaskan filsafat adalah penyelidikan
tentang hakikat terdalam alam yang wujud. Sedangkan, Immanuel Kant (1724-1804),
filsuf besar Jerman yang ajarannya disebut kritisisme, mengatakan bahwa
filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang di dalamnya
tercakup empat persoalan, yakni: (1) apakah kita dapat diketahui (dijawab oleh
metafisika); (2) apakah yang boleh kita kerjakan (dijawab oleh etika); (3)
sampai dimanakah pengharapan kita (dijawab oleh agama); dan (4) apakah yang
dinamakan manusia (dijawab oleh antropologi). Dalam kaitan ini, gaya para
filsuf Tanah Air pun tak boleh kita abaikan. Menurut N. Drijarkara (1913-1967),
misalnya, filsafat adalah pikiran manusia yang radikal. Artinya, filsafat lebih
memandang segala persoalan hidup dan kehidupan secara kritis dengan membongkar
akarnya, sehingga seringkali tampak seolah-olah di luar kebiasaan umum. Jika
filsafat berbicara tentang masyarakat, hukum, sosiologi, atau kesusilaan,
fokusnya tidak diarahkan ke sebab-sebab yang terdekat, yang praktis, atau
yang sesuai dengan pendapat mayoritas masyarakat, melainkan justru menyelam ke
akar persoalan atau ke ini, “mengapa” yang terakhir (Wibowo, 2006: 98).
Pertanyaan-pertanyaan tentang
asal dan tujuan, tentang hidup dan kematian, tentang hakikat manusia, tidak
terjawab oleh ilmu pengetahuan. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin juga tidak
pernah akan terjawab oleh filsafat. Namun, filsafat adalah tempat dimana
pertanyaan-pertanyaan ini dikumpulkan, diterangkan, dan diteruskan. Filsafat
adalah suatu ilmu tanpa batas. Filsafat tidak menyelidiki salah satu segi dari
kenyataan saja, melainkan apa saja yang menarik perhatian manusia. Di
universitas-universitas, fakultas filsafat sering disebut “fakultas sentral”
atau “inter-fakultas”. Karena semua fakultas lain – yang selalu menyelidiki
salah satu dari segi kenyataan 0 (nol) menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang
membutuhkan refleksi yang tidak lagi termasuk bidang khusus mereka, misalnya
pertanyaan tentang batas-batas pengetahuan kita, tentang asal bahasa, tentang
hakikat hidup, tentang hubungan badan dan jiwa, tentang hakikat materi, tentang
dasar moral. Perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan menjadi jelas kalau
kita membandingkan definisi ilmu pengetahuan dengan definisi filsafat. Ilmu
pengetahuan adalah pengetahuan metodis sistematis, dan koheren (bertalian)
tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (Hamersma, 2008: 10).
Hamersma (2008: 11) memaparkan
filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh
kenyataan. Filsafat tidak memperlihatkan banyak kemajuan dalam penyelidikan
ini. Hasil dari ilmu-ilmu khusus besar luar biasa. Dibandingkan dengan itu,
hasil dari filsafat kelihatannya kurang konkret dan kurang berguna. Namun
demikian, filsafat masih tetap dibutuhkan sebagai suatu forum, suatu tempat
dimana dibicarakan sial-soal yang datang sebelum dan sesudah semua ilmu lain.
B. Filsafat
Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari
kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti
bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa
Inonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat
pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi
kita sendiri.
Para konstruktivis menjelaskan
bahwa satu-satunya alat/sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui
sesuatu adalah indranya. Seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungan
dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan merasakannya. Dari sentuhan
indrawi itu seseorang membangun gambaran dunianya. Misalnya, dengan mengamati
air, bermain dengan air, mengecap air, dan menimbang air, seseorang membangun
gambaran pengetahuan tentang air. Para konstruktivis percaya bahwa pengetahuan
itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat
dipindahkan begitu saja dari otak seorang (pendidik) ke kepala orang lain
(peserta didik). Peserta didik sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah
diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka (Lorsbach
& Tobin, dalam Suparno, 1997: 19).
Menurut Von Glaserfekd
(Suparno, 1997: 19), pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang
sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan dapat berarti dua
macam. Pertama, bila kita berbicara tentang diri kita sendiri,
lingkungan menunjuk pada keseluruhan objek dan semua relasinya yang kita
abstraksikan dari pengalaman. Kedua, bila kita memfokuskan diri
pada suatu hal tertentu, lingkungan menunjuk pada sekeliling hal itu yang telah
kita sosialisasikan. Dalam hal ini, baik hal itu maupun sekelilingnya merupakan
lingkup pengalaman kita sendiri, bukan dunia objektif yang lepas dari pengamat.
Von Glasersfeld (Suparno,
1997: 19) menjelaskan struktur konsepsi tersebut membentuk pengetahuan bila
struktur itu dapat digunakan dalam menghadapi pengalaman-pengalaman mereka
ataupun dalam menghadapi persoalan-persoalan mereka yang berkaitan dengan
konsepsi tersebut. Bila konsep ataupun abstraksi seseorang terhadap sesuatu
dapat menjelaskan macam-macam persoalan yang berkaitan, maka konsep itu
membentuk pengetahuan seseorang akan hal itu. Misalnya konsepsi seseorang akan
ciri-ciri seorang wanita dibandingkan dengan seorang lelaki akan menjadi suatu
pengetahuan tentang “ciri-ciri wanita”, bila konsepsi itu dapat digunakan dalam
menganalisis wanita-wanita lain yang dijumpainya dan dapat membedakan antara
wanita dan lelaki yang dijumpainya.
Von Glasersfeld (Suparno,
1997: 26-27) membedakan adanya tiga taraf konstruktivisme diantaranya sebagai
berikut.
Kostruktivisme
radikal
Kaum konstruktivis radikal
mengesampingkan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai suatu kriteria
kebenaran. Bagi konstruktivis radikal, pengetahuan tidak merefleksikan suatu
kenyataan ontologis objektif, tetapi merupakan suatu pengaturan dan organisasi
dari suatu dunia yang dibentuk oleh pengalaman seseorang. Konstruktivisme radikal
berpegang bahwa kita hanya dapat mengetahui apa yang dibentuk/dikonstruksi oleh
pikiran kita. Bentukan itu harus berjalan dan tidak harus selalu merupakan
representasi dunia nyata. Adalah suatu ilusi bila percaya bahwa apa yang kita
ketahui itu memberikan gambaran akan dunia nyata.
Pengetahuan selalu merupakan
konstruksi dari seseorang yang mengetahui, maka tidak dapat ditransfer kepada
penerima yang pasif. Penerima sendiri yang harus mengkonstruksi pengetahuan
itu. Semua yang lain, entah objek maupun lingkungan, hanyalah sarana untuk
terjadinya konstruksi tersebut.
Dalam pandangan
konstruktivisme radikal sebenarnya tidak ada konstruksi sosial, di mana
pengetahuan itu dikonstruksikan bersama, karena masing-masing orang harus
menyimpulkan dan menangkap sendiri makna terakhir. Pandangan orang lain adalah
bahan untuk dikonstruksikan dan diorganisasikan dalam pengetahuan yang sudah
dipunyai orang itu sendiri.
Konstruktivisme tidak dapat
melihat dunia pengalaman kita dari luar. Kita membentuknya dari dalam dan hidup
dengannya lama sebelum kita bertanya dari mana dan apa itu sebenarnya.
Realisme
Hipotesis
Menurut Realisme hipotesis,
pengetahuan (ilmiah) kita dipandang sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur
kenyataan dan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati, yang dekat
dengan realitas (Munevar, 1981 dalam Bettencourt, 1989). Menurut Manuvar,
pengetahuan kita memunyai relasi dengan kenyataan tetapi tidak sempurna.
Menurutnya pula, Lorenz dan Popper dan banyak epistimolog evolusioner dapat
dikatakan termasuk realisme hipotesis.
Konstruktivisme
yang biasa
Aliran ini tidak mengambil
semua konsekuensi konstruktivisme. Menurut aliran ini, pengetahuan kita
merupakan gambaran dari relaitas itu. Pengetahuan kita dipandang sebagai suatu
gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek dalam dirinya sendiri.
C. Pandangan Filsafat
Konstruktivisme terhadap Pendidikan
Salah satu tujuan pendidikan
nasional adalah untuk membantu generasi muda menjadi manusia yang utuh, yang
pandai dalam bidang pengetahuan, bermoral, berbudi luhur, peka terhadap orang
lain, beriman, dan lain-lain; pendidikan juga mempunyai peran untuk membantu
orang muda masuk ke dalam masyarakat dan ikut terlibat di dalam masyarakat
secara bertanggungjawab. Secara konkret dalam situasi Indonesia dewasa ini,
pendidikan nasional juga mempunyai tujuan untuk membantu orang muda menjadi
warga negara yang baik dan bertanggungjawab. Artinya, pendidikan nasional dapat
ikut terlibat dalam meningkatkan hidup bernegara dan bermasyarakat. Tentu yang
diharapkan bahwa mereka dapat terlibat sebagai warga yang aktif, yang ikut
menegakkan demokratisasi negara ini (Suparni dkk, 2002: 14).
Maka proses pendidikan juga
perlu membentuk peserta didik mengenal masyarakatnya, peka terhadap situasi
masyarakatnya, aktif ikut berpikir dan bertanggungjawab terhadap masyarakatnya.
Dalam proses masyarakat yang demokratis, mereka harus ikut berpikir kritis,
menyumbang kepada masyarakat, dan diberi peran oleh masyarakat (Suparni dkk,
2002: 15).
Bagian yang penting dalam
pendidikan formal di sekolah adalah membantu peserta didik untuk mengetahui
sesuatu, terutama pengetahuan. Secara sederhana, bagaimana membantu peserta
didik untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan oleh pendidik. Tugas
pendidik adalah mentransfer pengetahuan itu ke dalam otak peserta didik,
sehingga peserta didik menjadi tahu. Maka, peserta didik tinggal membuka
otaknya dan menerima pengetahuan itu, atau seringkali diungkapkan bahwa peserta
didik itu seperti tabula rasa, kertas putih kosong. Sedangkan tugas pendidik
adalah memberi tulisan-tulisan pada kertas kosong tersebut.
Menurut filsafat
konstruktivisme (dalam Suparni dkk, 2002: 16) yang berbeda dengan filsafat
klasik, pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) peserta didik sendiri yang
sedang belajar. Pengetahuan peserta didik akan anjing adalah bentukan peserta
didik sendiri yang terjadi karena peserta didik megolah, mencerna, dan akhirnya
merumuskan dalam otaknya pengertian akan anjing. Pengetahuan itu kebanyakan
dibentuk lewat pengalaman indrawi, lewat melihat, menjamah, membau, mendengar,
dan akhirnya merumuskannya dalam pikiran. Dalam pengertian konstruktivisme,
pengetahuan itu merupakan proses menjadi, yang pelan-pelan menjadi lebih
lengkap dan benar. Sebagai contoh, pengetahuan peserta didik tentang kucing
terus berkembang dari pengertian yang sederhana, tidak lengkap, dan semakin
peserta didik dewasa serta mendalami banyak hal tentang kucing, maka
pengetahuannya tentang kucing akan bertambah lengkap.
1. Hakikat Pendidikan Menurut
Aliran Filsafat Konstruktivisme
Teori konstruktivisme
merupakan suatu proses pembelajaran yang mengondisikan peserta didik untuk
melakukan proses aktif membangun konsep baru, pengertian baru, dan pengetahuan
baru berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan
dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong peserta didik untuk
mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Teori
ini mencerminkan peserta didik memiliki kebebasan berpikir yang bersifat
eklektik, artinya peserta didik dapat memanfaatkan teknik belajar apapun asal
tujuan belajar dapat tercapai.
2. Tujuan Umum Pendidikan
Menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme
Menurut paham konstruktivisme,
pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari
suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain melalui asimilasi
pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang. Tujuan
pendidikannya menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk
menyelesaikan persoalan hidupnya. Tujuan filsafat pendidikan memberikan
inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori
pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan
prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan
atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi
kurikulum dan interaksi antara pendidik dengan peserta didik guna mencapai
tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan.
Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan
pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan
mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan
dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang pendidik perlu
menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni
mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau
miskonsepsi pada diri peserta didik.
3. Hakikat Pendidik Menurut
Aliran Filsafat Konstruktivisme
Suparno (1997:16) menyatakan
bahwa peran pendidik dalam aliran konstruktivisme ini adalah sebagai
fasilitator dan mediator yang memiliki tugas memotivasi dan membantu peserta
didik untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengetahuannya. Selain itu
pendidik juga berkewajiban untuk mengevaluasi gagasan-gagasan peserta didik
itu, sesuaikah dengan tujuan pendidikan atau tidak. Fungsi sebagai mediator dan
fasilitator ini dapat dijabarkan dalam beberapa tugas antara lain sebagai
berikut.
- Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik ikut bertanggung jawab dalam membuat desain, proses, dan penelitian.
- Pendidik menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingin-tahuan peserta didik, membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan mereka dan mengkomunikasikan ide ilmiahnya.
- Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran peserta didik itu jalan atau tidak. Pendidik menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan peserta didik itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Pendidik membantu dalam mengevaluasi hipotesa dan kesimpulan peserta didik.
- Paham konstruktivisme menuntut pendidik umtuk menguasai dan mengenai pengetahuan dari bahan yang mau diajarkan. Pengetahuan yang luas dan mendalam akan memungkinkan seorang pendidik menerima pandangan dan gagasan peserta didik yang berbeda dan juga memungkinkan untuk menunjukkan apakah gagasan peserta didik itu jalan atau tidak.
4. Hakikat Peserta Didik
Menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme
Para peserta didik menciptakan
atau membentuk pengetahuan mereka sendiri melalui tingkatan atau interaksi
dengan dunia. Peserta didik tidak lagi diposisikan bagaikan bejana kosong yang
siap diisi. Peserta didik diberikan kebebasan untuk mencari arti sendiri dari
apa yang mereka pelajari. Ini merupakan proses menyesuaikan konsep dan ide-ide
baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dalam pikiran mereka dan peserta
didik bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Peserta didik membawa pengertian
yang lama dalam situasi belajar yang baru. Peserta didik sendiri yang membuat
penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna,
membandingkannya dengan apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan
dalam pengalaman yang baru.
5. Hakikat Pembelajaran
Menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme
Menurut kaum konstruktivis,
belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksikan arti sebuah teks,
dialog, pengalaman fisis, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses
mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan
pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan.
Proses tersebut antara lain bercirikan sebagai berikut:
- Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh peserta didik dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.
- Konstruksi arti adalah proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.
- Belajar bukanlah kegiatan mengumpulan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, melainkan merupakan perkembangan itu sendiri (Fosnot, 1996), suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
- Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk memacu belajar.
- Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pelajar dengan dunia fisik dan lingkungan.
- Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui pelajar konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari (Paul Suparno, 2001:61).
D. Filsafat Konstruktivisme
dalam Praksis Pendidikan
Kaum konstruktivis personal
berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh melalui konstruksi individual dengan
melakukan pemaknaan terhadap realitas yang dihadapi dan bukan lewat akumulasi
informasi. Implikasinya dalam proses pembelajaran adalah bahwa pendidik tidak
dapat secara langsung memberikan informasi, melainkan proses belajar hanya akan
terjadi bila peserta didik berhadapan langsung dengan realitas atau objek
tertentu. Pengetahuan diperoleh oleh peserta didik atas dasar proses
transformasi struktur kognitif tersebut. Dengan demikian tugas pendidik dalam
proses pembelajaran adalah menyediakan objek pengetahuan secara konkret,
mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan pengalaman peserta didik atau
memberikan pengalaman-pengalaman hidup konkret (nilai-nilai, tingkah laku,
sikap) untuk dijadikan objek pemaknaan.
Kaum konstruktivis berpendapat
bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas dasar struktur kognitif
yang telah dimilikinya, hal ini berimplikasi pada proses belajar yang
menekankan aktivitas personal peserta didik. Agar proses belajar dapat berjalan
lancar maka pendidik dituntut untuk mengenali secara cermat tingkat
perkembangan kognitif peserta didik. Atas dasar pemahamannya pendidik merancang
pengalaman belajar yang dapat merangsang struktur kognitif anak untuk berpikir,
berinteraksi membentuk pengetahuan yang baru. Pengalaman yang disajikan tidak
boleh terlalu jauh dari pengetahuan peserta didik tetapi juga jangan sama seperti
yang telah dimilikinya. Pengalaman sedapat mungkin berada di ambang batas
antara pengetahuan yang sudah diketahui dan pengetahuan yang belum diketahui
sebagai zone of proximal development of knowledge.
Bagi kaum konstruktivis,
belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan. Proses konstruksi itu
dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses aktif, sedangkan
mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari pendidik ke peserta didik,
melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik membangun sendiri
pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan peserta didik dalam
membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, dan bersikap kritis.
Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Dalam aliran kostruktivisme,
pendidik bukanlah seseorang yang maha tahu dan peserta didik bukanlah yang
belum tahu, karena itu harus diberi tahu. Dalam proses belajar, peserta didik
aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya, sedangkan pendidik membantu
agar pencarian itu berjalan baik. Dalam banyak hal Pendidik dan peserta didik
bersama-sama membangun pengetahuan. Dalam hal ini hubungan pendidik dan peserta
didik lebih sebagai mitra yang bersamasama membangun pengetahuan.
BAB III
PENUTUP
Konstruktivisme beranggapan
bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi
pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomen, pengalaman
dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar apabila pengetahuan itu
dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomen yang tidak
sesuai. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja
dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh
maing-masing orang. Tiap orang harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri.
Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang
berkembang terus menerus.
Beberapa faktor seperti
keterbatasan pengalaman konstruksi yang terdahulu, dan struktur kognitif
seseorang dapat membatasi pembentukan pengetahuan orang tersebut. Sebaliknya,
situasi konflik atau anomali yang membuat orang dipaksa untuk berpikir lebih
mendalam serta situasi yang menuntut orang untuk membela diri dan menjelaskan
lebih rinci, akan mengembangkan pengetahuan seseorang. Konstruktivisme dibedakan
dalam tiga taraf: radikal, realisme hipotesis, dan yang biasa. Pembedaan ini
didasarkan pada hubungan antara pengetahuan dengan realitas yang ada.
Konstruktivis berpendapat
bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas dasar struktur kognitif yang
telah dimilikinya, hal ini berimplikasi pada proses belajar yang menekankan
aktivitas personal peserta didik. Agar proses belajar dapat berjalan lancar
maka pendidik dituntut untuk mengenali secara cermat tingkat perkembangan
kognitif peserta didik. Atas dasar pemahamannya pendidik merancang pengalaman
belajar yang dapat merangsang struktur kognitif anak untuk berpikir,
berinteraksi membentuk pengetahuan yang baru. Pengalaman yang disajikan tidak
boleh terlalu jauh dari pengetahuan peserta didik tetapi juga jangan sama
seperti yang telah dimilikinya. Pengalaman sedapat mungkin berada di ambang
batas antara pengetahuan yang sudah diketahui dan pengetahuan yang belum
diketahui sebagai zone of proximal development of knowledge.
Bagi aliran konstruktivisme,
pendidik tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai
satu-satunya sumber belajar. Namun pendidik lebih diposisikan sebagai
fasiltator yang memfasilitasi peserta didik untuk dapat belajar dan
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Aliran ini lebih menekankan bagaimana
peserta didik belajar bukan bagaimana pendidik mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Fosnot, C. (1996). “Constructivism:
A Psychologycal Theory of Learning”. Dalam C. Fosnot (Editor): Constructivism:
Theory, Perspectives, and Practice. NewYork: Teachers College.
Hamersma, Dr. Harry.
(2008). Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Paul Suparno. (2001). Teori
Perkembanga Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius.
Suparni, P dkk. (2002). Reformasi
Pendidikan: Sebuah Rekomendasi. Yogyakarta: Kanisius
Suparno. (1997). Filsafat
Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Filsafat
Rapar, Jan Hendrik.
(1996). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Wibowo, Wahyu. (2006). Berani
Menulis Artikel: Babak Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak.
Jakarta: Granedia Pustaka Utama
Suparno. (1997). Filsafat
Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka FIlsafat
Yusuf, Syamsu dan Nurihsan,
Juntika. (2010). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
MEMOTIVASI DIRI
Ada
satu titik setiap orang mulai merasa jenuh dengan kebiasaan yang dilakukan dan
rutinitas yang dikerjakan banyak factor yang mempengaruhinya salah satunya
adalah
1.
Semankin sulitnya masalah yang dihadapi
2.
Bosan dengan kegiatan yang tak memiliki perubahan
3.
Kurangnya social antara teman dan kawan yang berada di sekitar kita
Dari
beberapa factor diatas sehingga menimbulkan titik dimana seseorang mulai bosan
dengan segala kegiatan yang dilakukan oleh sebab itu perlunya motivasi yang membangun
diri.
Namun
terkadang untuk memotivasi diri tak cukup hanya internal atau dalam diri
sendiri tetapi adakala kita butuh motivasi dari luar diri contohnya seorang
teman, sahabat dan juga orang tua . Atau melihat salah satu tontonan yang
membagun motivasi yang membangun rasa percaya diri dan juga keberanian.
Sehingga semangat itu timbul kembali dan mulai melakukan tanpa beban, Sehingga rasa
bosan, jenuh itu sirna .
Buat
kalian para sahabatku ayo membagun mimpimu jangan mudah menyerah tak ada yang
tak bisa selagi masih adanya usaha dan doa, Setiap usaha yang kita lakukan
tidak akan berakhir sia- sia .
Saya
menulis untuk memotivasi diri saya sendiri dan para penikmat membaca bahwa
apapun yang kamu lakukan akan menuai hasil .
Karena
kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda jenuh, bosan dan juga muak
denga hal yang kita lakukan itu adalah hal biasa itu merupakan jalan kamu
menuju kesuksesan, karena tak ada yang mudah untuk meraih kesuksesan.
Semangat
…………..semangat ………………semangat…………………semangat
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pendidikan
merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa
suatu Negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang
melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik,
diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Dalam konteks perencanaan ini guru dengan sadar merencanakan kegiatan
pengajarannya secara sistematis.
Proses
pembelajaran yang dilakukan oleh banyak oleh tenaga pendidik saat ini
cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada
penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan
pembelajaran dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru, dengan
demikian suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi
pasif.
Model
pembelajaran di kelas yang semula hanya konvensional secara monoton dan guru
sebagai pusat pembelajaran. Hal ini sudah tidak sesuai dengan perubahan
paradigma pendidikan yang semula teacher centre berubah menjadi student
centre. Perubahan ini tidak hanya membawa dampak terhadap metode, aktivitas dan
sikap ilmiah belajar siswa, akan tetapi juga terhadap cara penilaian yang
berpusat pada peserta didik.
Upaya
untuk meningkatkan prestasi siswa guru harus lebih kreatif dan membuat
pembelajaran dengan lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Pembelajaran
kooperatif terutama teknik Jigsaw dianggap cocok diterapkan dalam
pendididkan di Indonesia karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang
menjunjung tinggi nilai gotong-royong.
Pembelajaran dengan
menggunakan model Jigsaw materi yang dipelajari biasanya
berbentuk narasi tertulis dan tujuan pembelajarannya lebih diutamakan untuk
penguasaan konsep daripada penguasaan kemampuan. Pengajaran materi Jigsaw
biasanya berupa sebuah bab, narasi atau diskripsi yang sesuai. Para siswa
bekerja dalam sebuah tim yang heterogen, diberikan tugas membaca, memahami,
mendiskusikan dan menyampaikan materi kepada rekan yang lain
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis merumuskan beberapa rumusan masalah sabagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw?
2.
Bagaimana langkah-langkah metode jigsaw?
3.
Apa saja kekurangan dan kelebihan dari metode jigsaw?
4.
Apa materi yang cocok untuk diterapkan dengan metode jigsaw?
C. Tujuan
Dalam makalah ini penulis menemukan beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui yang dimaksud/pengertian dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
2. Untuk
mengetahui bagaimana langkah – langkah metode pembelajaran tipe jigsaw.
3. Untuk
mengetahui kekurangan dan kelebihan metode jigsaw.
4. Untuk
mengetahui materi yang cocok menggunakan metode jigsaw?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw
Pengetian
pembelajaran secara umum adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru
sedemikan rupa sehingga tingkah laku siswa menjadi kearah yang lebih baik.
Metode pembelajaran kooperatif tipe jigasaw adalah pembelajaran dimana siswa
belajar dalam kelompok dan bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar
yang ditugaskan kepadanya lalu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota
kelompok lain.
Jigsaw
pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman
di Universitas Texas, kemudian diadaptasikan oleh Slavin dan temen-teman di
Universitas John Hopkins (Arends, 2001).
Teknik
mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et.al.sebagai model Cooperative
Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca,
menulis,berbicara, ataupun mendengarkan. Dalam Teknik ini, guru memperhatikan
skemataatau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan
schemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa
bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai
kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi.
Pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri
dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas
penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada
anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997 dalam http://matamatika-ipa.com
). Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupaka tipe model
pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri
dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang
positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang
harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kapada kelompok yang lain
(Arends, 1997).
Jigsaw
didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya
sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi
yang diberikan, tetapi mereka juga siap memberikan dan mengajarkan materi
tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling
tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk
mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie,A., 1994).
Para
anggota dari tim – tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk
diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran
yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswi itu kembali pada tim /
kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa
yang telah mereka pelajari sebelumnya pada tim ahli.
Pada model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli.
Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan
kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam.Kelompok asal
merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang
terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk
mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang
berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok
asal.Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai
berikut (Arends, 2001) :
Para
anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam
kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada
masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari
topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok
kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya
apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli.
B. Langkah -
Langkah Metode Jigsaw :
I. Tahap Pendahuluan
1. Review,
apersepsi, motivasi
2. Menjelaskan pada siswa tentang
model pembelajaran yang dipakai dan menjelaskan manfaatnya.
3.
Pembentukan kelompok.
4. Setiap
kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan siswa yang heterogen.
5.
Pembagian materi/soal pada setiap anggota kelompok.
II.
Tahap Penguasaan
1. Siswa
dengan materi/soal yang sama bergabung dalam kelompok ahli dan berusaha
menguassai materi sesuai dengan soal yang diterima.
2. Guru
memberikan bantuan sepenuhnya.
III. Tahap
Penularan
1. Setiap
siswa kembali ke kelompok asalnya.
2. Setelah
selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal
dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kuasai
dan tiap anggota lainnya mendengarkan denga sungguh-sungguh.
3. Terjadi
diskusi antar siswa dalam kelompok asal.
4. Dari
diskusi tersebut siswa memperoleh jawaban soal.
IV. Penutup
C. Kelebihan dan
Kekurangan Pembelajaran Metode Jigsaw
# Kelebihan pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut:
1.
Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam kelompok
2.
Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah
3.
Menerapkan bimbingan sesama teman
4.
Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi
5.
Memperbaiki kehadiran
6.
Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar
7.
Sikap apatis berkurang
8.
Pemahaman materi lebih mendalam
9.
Meningkatkan motivasi belajar
10.
Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif
11.
Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompok
12.
Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama
dengan kelompok lain
13.
Setiap siswa saling mengisi satu sama lain.
14. Meningkatkan
rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga
pembelajaran orang lain.
2. Siswa
tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap
memberikan dan mengerjakan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain,
sehingga pengetahuannya jadi bertambah.
3. Menerima
keragaman dan menjalin hubungan sosial yang baik dalam hubungan dengan belajar
4. Meningkatkan
berkerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
5. Siswa
diajarkan bagaimana bekerjasama dalam kelompok
Kekurangan pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut.
1. Keadaan kondisi kelas yang
ramai,sehingga membuat siswa binggung dan pembelajran kooperatif tipe jigsaw
merupakan pembelajaran baru;
2. Jika guru tidak meningkatkan agar
siswa selalu menggunakan ketrampilan-ketrampilan kooperatif dalam kelompok
masing-masing maka dikhawatirksn kelompok akan macet
3. Siswa
lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai
4. Jika
jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah,misal jika ada anggota
yang hanya memboncengdalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi
5.
Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila ada penataan ruang belum
terkondiki dengan baik, sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat juga
menimbulkan gaduh serta butuh waktu dan persiapan yang matang sebelum model
pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.
6. Jika
guru tidak mengingatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilan-keterampilan
kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet
dalam pelaksanaan diskusi.
7.
Jika
anggota kelompoknya kurang akan menimbulkan masalah.
- Membutuhkan waktu yang lebih lama, apalagi bila penataan ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk merubah posisi yang dapat menimbulkan kegaduhan.
2.
Evaluasi Materi yang cocok untuk SMP / SMA dengan Metode Jigsaw
3.
Beberapa
contoh materi matematika yang cocok pada metode jigsaw adalah: menyelesaikan
sistem persamaan linier dua peubah (kelompok ahli 1 mempelajari menyelesaikan
dengan eliminasi, kelompok ahli 2 dengan substitusi, kelompok ahli 3
dengan garis bilangan, kelompok ahli 4 dengan matrik, dll), limit kiri-limit
kanan ( kelompok ahli 1 mempelajari limit kiri, yang lain limit kanan),
Luas bangun segi 4 (kelomok ahli 1 mempelajari belah ketupat, kelompok ahli 2
layang-layang, kelompok ahli 3 tentang trapezium sama kaki, kelompok ahli 4
trapesium sebarang, dst).
4.
Pemilihan materi tidak hanya didasarkan pada banyaknya sub bab atau sub-sub bab
saja yang mengindikasikan mudah “dibagi-bagi” untuk didiskusikan dalam
kelompok-kelompok ahli. Namun hal penting lain yang tidak boleh dilupakan bahwa
seyogyanya kita tidak memaksakan 1 rangkaian pembelajaran kooperatif, apa saja,
dalam satu pertemuan. Masih banyak materi yang sesuai di-jigsaw-kan. Namun kita
harus memeriksanya terlebih dahulu, sehingga tujuan kita tercapai, bukan
sebaliknya menambah bingung siswa.
BAB III
PENUTUP
A.
keSIMPULAN
1. Pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekan pada sikap atau
perilaku bersama dalam belajar atau membantu diantara sesame dalam struktur
kerja sama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih.
2. Penerapan model pembelajaran cooperative
learning tipe jigsaw ini pada kelas siswa dibagi berkelompok dengan lima
atau enam anggota kelompok belajar heterogen.setiap anggota bertanggung jawab
untuk mempelajari,menguasai bagian tertentu bahan yang diberikan kemudian
menjelaskan pada anggota kelompoknya. Dengan demikian terdapat rasa saling
membutuhkan dan harus berkerjasamlsimpulaa secara cooperative untuk mempelajari
materi yang ditugaskan.
3. Kerangka model pembelajaran jigsaw adalah
para anggota dari kelompok asal yang berbeda,bertemu dengan topik yang sama
dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada
masing-masing anggota kelompok serta membatu satu sama lain untuk mempelajari
topic mereka tersebut.setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok
kemudian kembali pada kelompok semula ( asal ) dan berusaha mengajarkan pada
teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan
dikelompok ahli. Kunci tipe JIGSAW ini adalah interdepensi yang diperlukan
dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.
4. Keuntungan mengembangkan kerja tim,
ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang
tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi
sendirian. Sementara untuk kerugiannya ada beberapa yaitu keadaan kondisi kelas
yang ramai, siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai
serta membutuhkan waktu yang lebih lama apabila bila ada pernataan ruang
belum terkondisi dengan baik.
5. Alasan mengapa kami
menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw dalam
bab Fungsi, Persamaan dan pertidaksamaan Kuadrat karena tekhik pembelajaran
jigsaw dapat diterapkan pada materi pembelajaran yang tidak berstuktur ( tidak
saling berhubungan antara sub-sub materi ). Karena fungsi dan persamaan
kuadratadalah materi yang tidak berstruktur maka kami memilih materi untuk
diterapkan dalam model pembelajaran cooperativelearningtipe jigsaw.
B.
SARAN
1. Guru seharusnya menjelaskan
model pembelajaran tipe jigsaw ini dulu kepada siswa sebelum menerapkannya,
agar siswa tidak binggung.
2. Guru harus pandai dalam memilih
materi pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam model ini.
3. Bangku perlu ditata
sedemikian rupa sehingga semua siswa bias melihat guru/papan tulis dengna
jelas, bias melihat rekan-rekan kelompoknya dengan baik,dan berada dalam
jangkauan kelompoknya dengan merata.
4. Model pembelajaran
kooperatif tipejigsaw perlu digunakan atau diterepkan karena suasana positif
yang timbul akan membarikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran
dan sekolah atau guru, selain itu siswa akan merasa lebih terdorong untuk
belajar dan berpikir serta meningkatkan keaktifan.
Langganan:
Komentar (Atom)